Rabu, 18 Mei 2011

In My Dream ^-^'

Matahari itu sangat indah. Matahari di sore hari, sinarnya menembus sampai ke kamarku. Indah memang sore ini, sampai ku tak ingin melewati keindahan alam dari sang pencipta ini. Aku sangat terkagum dengan keindahan matahari itu. Apa aku bisa menjadi matahari itu? apa aku bisa menjadi indah seperti matahari sore itu?
Entahlah, mungkin khayalku terlalu tinggi. Tetapi, aku sungguh ingin seperti matahari itu, yang bisa mengindahkan sore ini. Yang sinarnya takkan pernah redup dari dunia ini.


***


Aku sedang mengobrol dengan kakakku di ruang tamu. Aku bercerita tentang kegiatanku tadi disekolah, tentang sahabat-sahabatku, dan tentang keinginanku.

“Mas Lian, salah nggak sih kalo kita punya mimpi?” tanyaku.

“Ya enggak lah. Emang kenapa? Tumben nanya kaya gitu?”

“Ya enggak, Nanda Cuma punya mimpi. Tapi nanda nggak yakin bisa meraih mimpi itu!” jelasku sambil tertunduk sedih.

“Kenapa nggak bisa? Belum juga dicoba”

Aku masih terdiam membisu. Aku tak tau harus berkata apa? Aku bingung, apa mimpiku itu bisa kuraih?

“Nanda, setiap orang itu pasti punya mimpi. Jangan pernah bilang nggak bisa jika belum pernah mencobanya. Masa kamu kalah sebelum perang sih?” jelasnya.

“Iya mas Lian, Nanda ngerti. Tapi, apa mimpi nanda itu nggak mustahil?” (masih dengan wajah tertunduk sedih).

“Asal kamu jagan punya mimpi buat mindahin monas dari Jakarta ke Surabaya aja. Hehehe, emang mimpi kamu itu apa
sih kalo boleh mas Lian tau?”

“Mas Lian aneh nih, hehehehe. Mau tau aja!” ucapku yang langsung pergi berlalu dari hadapan mas Lian.

Aku masih bingung, apa mimpiku itu bisa ku raih? Tetapi dengan penjelasan mas Lian tadi, aku jadi mengerti. Mimpi itu harus diraih. Dan, tak ada hal yang tidak mungkin, selama mimpi itu masuk akal. Ya, menurutku mimpiku itu masuk akal.


***


Hari ini disekolah, aku kurang bersemangat. Entah apa yang terjadi
pada diriku saat ini? Tiba-tiba saja aku menjadi seperti ini, seperti orang yang tidak mempunyai semangat hidup.
Aku melihat sekeliling, begitu ramai sekali. Jika keadaanku seperti ini, aku membutuhkan tempat yang sepi dan jauh dari keramaian. Akupun pergi ke taman belakang sekolah. Aku mencari ketenangan disana. Dan benar saja, ditaman aku menemukan kedamaian, kesejukan, dan jauh dari keramaian. Haha, benar-benar tempat favoritku.

Ditaman, aku kembali memikirkan perkataan mas Lian. ‘Mimpi itu harus diraih. Jangan bilang nggak bisa sebelum mencobanya’. Mmmhh, perkataan mas Lian membuatku kembali bersemangat. Ya, aku harus mencobanya, aku tak boleh menyerah sebelum perang. Aku takkan menyerah.


***


Sore ini, aku kembali melihat matahari itu. Sangat indah. Kuharap keindahan ini akan selalu hadir disore hari hidupku. Setidaknya, keindahan ini bisa memberiku semangat. Semangat untuk meraih mimpiku, untuk menjadi matahari yang selalu bisa memberikan keindahannya.


“Jadi, kamu mau menjadi matahari itu?” kata mas Lian tiba-tiba muncul dikamarku sambil menunjuk kearah dimana matahari itu berada.

“Kok nggak ketuk pintu dulu sih? Hhh!” (menghela napas).

“Udah, kamu aja yang nggak denger! Kamu belum jawab pertanyaan mas Lian”

“Ok ok, Nanda emang ingin seperti matahari yang selalu memberikan keindahan. Yang selalu menghangatkan, dan yang selalu menyinari” jelasku lagi-lagi tertunduk sedih.

“Kamu bisa kok menjadi matahari itu” ucapnya membuatku tersentak kaget.

“Hah? Mas Lian nggak ngarang kan?”

“Enggak kok. Kamu bisa menjadi seperti itu”

“Gimana caranya?” tanyaku.

“Mas Lian nggak tau. Yang jelas jawabannya ada dalam diri dan hati kamu” jelas mas Lian, kemudian pergi dari hadapanku.

Lagi-lagi jawaban mas Lian membuatku tenang, dan bersemangat. Aku tak tau, seandainya aku tak memiliki kakak seperti mas Lian. Mungkin aku akan cepat menyerah. Haha, terimakasih mas Lian, engkau memang kakak laki-laki yang penuh perhatian.


***


Disekolah aku kembali ceria seperti biasanya. Aku kembali bersemangat, mungkin atas semangat yang diberikan oleh mas Lian kemarin padaku. Tetapi hatiku tiba-tiba kembali bersedih. Karena sahabatku Annisa sedang bersedih. Aku tak boleh ikut bersedih. Aku harus menghibur Annisa. Ya, harus.

“Nis, kenapa?” tanyaku.

“Nanda…”  kemudian Annisa menangis dalam pelukanku.

“Ya udah kalo mau nangis, nangis aja dulu” ucapku. Dan sesaat Annisa menghapus airmatanya.

“Kenapa Nis???” tanyaku lagi.

“Nggak tau Nda! Hati aku kenapa sakit ya, kalo ngeliat dia sama cewe lain?”

“Jadi intinya kamu patah hati?” tanyaku, ia hanya menangguk.

“Gini Nis, nggak semua yang kita inginkan itu bisa kita dapatkan. Nggak semua yang kita harapkan baik akan terjadi baik pula”

“Maksud kamu apa Nda?”

“Ujian hidup yang paling sulit adalah, ketika kita harus mengikhlaskan apa yang paling kita cintai dan sayangi didunia ini.Sama halnya seperti kamu Nis! Ngerti kan maksud aku?” jelasku.

“Tapi itu sulit Nda!”

“Memang pada awalnya kita merasa sulit untuk melakukannya. Tapi kamu harus yakin, bahwa kamu bisa mengikhlaskannya Nis!”

“Ok, akan aku coba. Insyaallah aku bisa. Bismillah”

“Nah gitu dong, jangan sedih lagi ya sahabatku! Nanti aku juga ikutan sedih. Hehehe…”

“Terimakasih matahari senjaku. Kamu mampu memberikan kehangatan dihati ini” Ucapnya yang membuatku tertegun.

Matahari senja? Itukan mimpiku selama ini. Aku masih terdiam dalam lamunanku. Aku mencoba berfikir keras akan pernyataan Annisa barusan.


***


Aku kembali memandangi indahnya matahari senja itu. tak lepas dariku akan senarnya yang hangat dan indah. Apa aku bisa menjadi matahari itu ya? Pertanyaan itu menyelimuti hatiku saat ini.

“Tanpa kamu sadari, kamu telah menjadi matahari indah itu” ucap mas Lian, yang lagi-lagi mengaggetkanku.

“Maksud mas Liana pa?”

“Iya, kamu telah menjadi matahari itu” katanya sambil menunjuk kearah matahari itu.

“Nanda masih nggak ngerti”

“Kamu itu telah menjadi matahari mas Lian, adik-adik, mama, papa, dan sahabat kamu. Kamu mampu memberikan kebahagiaan dan kembali melukiskan senyum kepada kami semua. Kamu seperti matahari, ketika kita melihat keindahannya kita tersenyum” jelasnya.

Ya, tanpa aku sadari. Aku telah menjadi matahari itu. akhirnya mimpiku terwujud, aku bisa seperti matahari. Yang selalu memberikan senyuman kepada siapapun yang melihatnya.
Tanpa harus menjadi orang lain, aku bisa mewujudkan mimpiku untuk seperti matahari. Dan aku akan terus seperti matahari senja sore yang selalu bisa melukiskan senyuman kepada siapapun yang melihat keindahannya.


Cerpen ini saya dedikasikan untuk seluruh sahabat SKUT dimanapun kalian berada, dan sahabat-sahabat saya tentunya. Dan Big Thanks for kak Kiki yang selalu nyemangatin aku kalo aku lagi patah semangat. "MAACI YA KAKAK SAYANG. HEHEHE :D"

Dan, cerpen saya ini untuk kalian semua yang mempunyai mimpi. Sahabat, mimpi adalah hal yang harus kita raih. tidak ada yang tidak mungkin juka Tuhan sudah berkehendak. Satu pesan dari saya "Jangan menyerah dalam keadaan apapun. Meski awal akan terasa sangat sulit".

#THE END#



By: Linanda Putri Tiratih (Choi Yoon So

Tidak ada komentar:

Posting Komentar